➢ Memiliki surai tipis di sekitar leher terutama jantan
➢ Kumis panjang dan gigi taring sangat tajam
➢ Cakar kuat dan kaki berotot
➢ Ekornya relatif panjang
➢ Hewan soliter (penyendiri) dan teritorial
e) Perkembangbiakan
Harimau Sumatra berkembang biak secara vivipar (melahirkan). Betina
biasanya melahirkan 2–4 anak harimau dalam satu kali kelahiran setelah masa
kehamilan sekitar 3,5 bulan (sekitar 103 hari). Anak harimau lahir dalam kondisi
buta dan bergantung sepenuhnya pada induknya. Selama beberapa bulan pertama,
induk merawat anaknya dengan memberikan ASI, mengajarkan berburu, dan
melindungi dari predator. Anak harimau mulai belajar berburu secara mandiri pada
usia sekitar 1–2 tahun.
f) Habitat/Lokasi
Harimau Sumatera hanya ditemukan di Pulau Sumatra, Indonesia, terutama
di hutan hujan tropis, hutan pegunungan, serta hutan rawa dan gambut yang lebat,
yang menyediakan tempat berlindung dan wilayah berburu.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan, pada siang hari harimau Sumatera terlihat
dalam kondisi lemas dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur atau
beristirahat. Hewan tersebut jarang melakukan aktivitas yang berarti dan cenderung
berdiam diri di tempat yang teduh. Perilaku ini menunjukkan bahwa harimau
Sumatera lebih aktif pada waktu tertentu, terutama sore hingga malam hari
(nokturnal atau krepuskular).
h) Interaksi yang Teramati
Pada siang hari, harimau tampak memilih beristirahat di area yang teduh
sebagai respons terhadap suhu yang lebih panas, sehingga interaksinya dengan
lingkungan berupa pemanfaatan tempat yang nyaman untuk menghemat energi.
Tidak terlihat adanya interaksi langsung dengan pengunjung maupun hewan lain,
karena harimau bersifat soliter dan menjaga jarak. Perilaku diam dan tenang ini
juga menunjukkan adaptasinya terhadap lingkungan penangkaran, di mana
rangsangan dari luar tetap direspons dengan menjaga kewaspadaan tanpa
menunjukkan agresivitas.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Sebagai predator puncak, harimau mencerminkan keseimbangan rantai
makanan di alam, sehingga keberadaannya menjadi simbol penting bagi
kelestarian ekosistem hutan Sumatra. Di kebun binatang, harimau Sumatera
berperan sebagai satwa edukatif yang membantu meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga satwa langka dan habitatnya.
Keberadaannya juga mendukung program konservasi dan pelestarian spesies yang
terancam punah, sekaligus menjadi sarana penelitian ilmiah terkait perilaku,
reproduksi, dan kesehatan satwa liar. Melalui peran tersebut, harimau Sumatera di
Ragunan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga memiliki nilai ekologis
dan konservasi yang sangat penting.
5. Biawak Salvator (Varanus salvator)