Laporan Hasil Pengamatan
Kelompok 1:
1. Anastasia Gita Arsita (1303625002)
2. Fathulloh Izhar Purnama (1303625051)
3. Sasta Aprilia (1303625040)
4. Zahrah Syavirah (1303625072)
Pendidikan Kimia B
A. Hewan
1. Kucing (Felis catus)
a) Deskripsi Umum
Kucing merupakan hewan mamalia yang banyak dipelihara sebagai hewan
kesayangan di seluruh dunia. Nama ilmiahnya adalah Felis catus. Kucing memiliki
tubuh yang lentur, bulu yang lembut, dan indra pendengaran serta penglihatan yang
sangat tajam. Panjang tubuh kucing umumnya sekitar 40–50 cm, dengan berat rata-
rata 3–5 kg. Kucing jantan biasanya berukuran lebih besar daripada kucing betina.
Kucing memiliki cakar yang tajam dan dapat ditarik masuk, serta kumis panjang
yang membantu mereka merasakan lingkungan sekitarnya. Warna bulu kucing
sangat bervariasi, mulai dari putih, hitam, oranye, hingga pola loreng atau belang.
Kucing merupakan hewan karnivora yang biasanya memakan daging, seperti ikan,
ayam, atau hewan kecil seperti tikus. Selain itu, kucing dikenal sebagai hewan yang
lincah, suka bermain, dan mampu bergerak dengan sangat senyap saat berburu.
Gambar 1. Kucing (Felis catus)
b) Klasifikasi dan Taksonomi
Tingkatan Takson
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Mammalia
Ordo
Carnivora
Familia
Felidae
Genus
Felis
Species
Felis catus
c) Ciri-Ciri Morfologi
Kedua kucing pada gambar memiliki tubuh ramping dan lentur dengan
postur memanjang saat beristirahat, menunjukkan morfologi khas kucing domestik.
Kucing di depan memiliki pola bulu tabby berwarna coklat keabu-abuan dengan
garis-garis gelap, sedangkan kucing di belakang berwarna oranye dengan pola
tabby mackerel yang lebih halus. Keduanya memiliki telinga tegak-runcing, mata
berbentuk almond, hidung kecil, serta kumis panjang yang sensitif. Selain itu, kaki
mereka tampak ramping namun berotot dengan cakar yang dapat ditarik, dan ekor
panjang yang berpola garis mendukung keseimbangan tubuh.
d) Ciri Khas
Tubuh lentur dan gerakan lincah
Mampu meloncat tinggi berkat otot kaki belakang yang kuat
Memiliki penglihatan malam yang sangat baik
Telinga peka terhadap suara berfrekuensi tinggi
Kumis sensitif yang membantu navigasi di ruang sempit
Cakar dapat ditarik masuk (retractile) sehingga tetap tajam untuk berburu
dan memanjat
Kebiasaan grooming (membersihkan diri) yang intens
Menghasilkan suara khas seperti mengeong dan mendengkur
e) Perkembangbiakan
Kucing berkembang biak secara vivipar (melahirkan). Induk betina
mengalami masa kehamilan selama 58–67 hari sebelum melahirkan anak kucing
yang biasanya berjumlah 2–5 ekor dalam satu kali kelahiran. Selama masa
kehamilan, induk akan mencari tempat yang aman dan hangat untuk melahirkan
serta merawat anak-anaknya. Setelah lahir, anak kucing bergantung sepenuhnya
pada induknya untuk mendapatkan susu dan perlindungan hingga cukup kuat untuk
berkembang mandiri.
f) Habitat/Lokasi
Kucing berkembang biak secara vivipar (melahirkan). Induk betina
mengalami masa kehamilan selama 58–67 hari sebelum melahirkan anak kucing
yang biasanya berjumlah 2–5 ekor dalam satu kali kelahiran. Selama masa
kehamilan, induk akan mencari tempat yang aman dan hangat untuk melahirkan
serta merawat anak-anaknya. Setelah lahir, anak kucing bergantung sepenuhnya
pada induknya untuk mendapatkan susu dan perlindungan hingga cukup kuat untuk
berkembang mandiri.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Kucing pada gambar tampak lebih banyak beristirahat di area teduh sambil
berbaring santai di tanah yang lembap. Mereka terlihat waspada meski dalam posisi
rileks, ditunjukkan dengan telinga yang sesekali bergerak merespons suara di
sekitar. Ketika ada aktivitas manusia melintas, kucing hanya mengangkat kepala
atau melirik tanpa terlihat gelisah, menunjukkan bahwa mereka sudah terbiasa
dengan lingkungan sekitar. Sesekali keduanya melakukan grooming ringan seperti
menjilat bulu untuk merapikan tubuh, yang merupakan perilaku alami kucing untuk
menjaga kebersihan dan kenyamanan.
h) Interaksi yang Teramati
Interaksi yang sering teramati pada kucing meliputi perilaku sosial seperti
saling menyentuhkan kepala atau badan sebagai tanda pengenalan dan penandaan
aroma. Kucing juga berinteraksi dengan manusia melalui suara mengeong,
menggosokkan tubuh, atau duduk di dekat orang sebagai bentuk komunikasi dan
pencarian perhatian. Saat bermain, kucing menunjukkan interaksi predatoris
dengan mengejar objek bergerak, melompat, atau menyergap sebagai simulasi
berburu. Di sisi lain, ketika merasa terancam, kucing dapat menunjukkan interaksi
defensif seperti mendesis, menegakkan bulu, atau melengkungkan punggung.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Kucing memiliki manfaat dan peranan ekologis penting dalam menjaga
keseimbangan rantai makanan, terutama sebagai pengendali populasi hewan kecil
seperti tikus dan serangga. Dengan aktivitas berburu alaminya, kucing membantu
menekan jumlah hama yang dapat merusak tanaman, mencemari makanan, atau
menyebarkan penyakit. Selain itu, keberadaan kucing di lingkungan juga
berkontribusi pada stabilitas ekosistem mikro dengan menjaga dinamika antara
predator dan mangsa. Dalam konteks hubungan dengan manusia, kucing turut
mendukung kesehatan lingkungan dan kenyamanan tempat tinggal melalui
perannya sebagai pengendali organisme pengganggu.
2. Anjing Pomerian (Canis lupus familiaris)
a) Deskripsi Umum
Anjing Pomerian adalah hewan mamalia domestik yang telah lama menjadi
sahabat manusia, dikenal karena kesetiaan, kecerdasan, dan kemampuan
beradaptasi yang tinggi. Mereka berasal dari keturunan serigala yang mengalami
proses domestikasi ribuan tahun lalu, sehingga kini memiliki ratusan ras dengan
ukuran, bentuk, dan sifat yang sangat beragam. Anjing sering dimanfaatkan sebagai
hewan peliharaan, penjaga, pemburu, hingga penolong dalam berbagai tugas seperti
pencarian dan penyelamatan. Selain itu, ikatan emosional yang kuat antara anjing
dan manusia menjadikan mereka bukan hanya hewan pendamping, tetapi juga
bagian penting dari kehidupan banyak orang.
Gambar 2. Anjing Pomerian (Canis lupus familiaris)
b) Klasifikasi dan Taksonomi
Tingkatan Takson
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Mammalia
Ordo
Carnivora
Familia
Canidae
Genus
Canis
Species
Canis lupus
Subspecies
Canis lupus familiaris
Ras
Pomeranian
c) Ciri-Ciri Morfologi
Anjing ini memiliki morfologi khas anjing kecil berbulu tebal dengan
penampilan fluffy, wajah bulat, dan telinga tegak—ciri fisik yang menyerupai
kelompok ras toy berbulu lebat.
d) Ciri Khas
Ukuran tubuh kecil
Bulu sangat tebal dan mengembang
Wajah runcing seperti rubah
Telinga kecil dan tegak
Ekor melengkung ke atas punggung
Warna bulu beragam
Sifat aktif dan cerdas
e) Perkembangbiakan
Anjing berkembang biak secara vivipar (melahirkan). Betina mengalami
masa birahi sekitar dua kali dalam setahun dan hanya pada fase inilah pembuahan
dapat terjadi. Setelah kawin dengan pejantan, anjing betina mengalami masa
kebuntingan selama ± 58–68 hari sebelum melahirkan. Dalam satu kali melahirkan,
induk anjing dapat menghasilkan 2 hingga 8 anak, tergantung ukuran ras dan
kondisi kesehatannya.
f) Habitat/Lokasi
Anjing tersebar hampir di seluruh dunia karena telah dijinakkan dan
dibudidayakan manusia sejak ribuan tahun lalu. Anjing dapat ditemukan di hampir
semua benua, kecuali Antarktika. Populasi terbesar anjing berada di daerah dengan
permukiman manusia yang padat, seperti Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika.
Adaptasi tubuhnya yang baik membuat anjing mampu bertahan hidup di berbagai
iklim, mulai dari daerah dingin hingga tropis.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Anjing tersebut memiliki telinga kecil yang tegak dan mata berwarna gelap
yang tampak cerah. Mulutnya terbuka dengan lidah menjulur keluar, menandakan
kemungkinan sedang merasa hangat, lelah, atau bersemangat. Postur tubuhnya
berdiri stabil di atas meja logam, dengan bulu yang tampak bersih dan terawat.
h) Interaksi yang Teramati
Mulut yang terbuka dengan lidah menjulur menunjukkan respons alami
terhadap suhu atau rangsangan di sekitarnya, yang sering muncul saat anjing
merasa senang, aktif, atau sedikit tegang. Meskipun tidak terlihat berinteraksi
langsung dengan manusia atau hewan lain dalam gambar, ekspresi wajah dan
posturnya menunjukkan adanya respon terhadap kehadiran atau aktivitas di
sekitarnya, seperti suara atau gerakan dari orang di ruangan tersebut.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Anjing Pomeranian atau German Spitz bermanfaat sebagai hewan
peliharaan dan pendamping yang dapat memberikan kenyamanan serta mengurangi
stres. Meskipun kecil, anjing ini sangat waspada sehingga dapat berperan sebagai
penjaga rumah dengan memberi tanda bahaya lewat gonggongan. Secara ekologis,
kehadirannya membantu mengusir hewan pengganggu di sekitar rumah dan
menjadi bagian dari ekosistem domestik yang mempererat hubungan manusia
dengan makhluk hidup lainnya.
3. Beruang Madu (Helarctos malayanus)
a) Deskripsi Umum
Beruang madu (Helarctos malayanus) adalah spesies beruang terkecil di
dunia yang hidup di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia,
Malaysia, dan Thailand. Panjang tubuhnya mencapai 1,40m, tinggi punggungnya
70cm dengan berat berkisar 50-65kg. Bulu beruang madu cenderung pendek,
berkilau, dan pada umumnya hitam. Matanya berwrna coklat atau biru, selain itu
hidungnya relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong.
Gambar 3. Beruang Madu (Helarctos malayanus)
b) Klasifikasi dan Taksonomi
Tingkatan Takson
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Mammalia
Ordo
Carnivora
Familia
Ursidae
Genus
Helarctos
Species
Helarctos malayanus
c) Ciri-Ciri Morfologi
Bruang madu memiliki bulu hitam pekat yang pendek dan mengkilap di
seluruh tubuhnya, dengan bagian moncong yang berwarna lebih terang (cokelat
muda/keabu-abuan); ciri paling menonjol adalah adanya bercak besar berbentuk
seperti bulan sabit berwarna krem atau kuning-jingga yang terlihat jelas di bagian
dadanya. Beruang ini memiliki postur tubuh yang relatif kecil dan terlihat sedang
duduk tegak, menunjukkan kekuatan pada kaki dan lengannya.
d) Ciri Khas
Ukuran tubuh paling kecil di antara semua jenis beruang
Bulu pendek dan halus berwarna hitam pekat
Terdapat pola kuning atau putih di dada berbentuk setengah lingkaran
seperti matahari terbit, yang menjadi asal nama “beruang madu”.
Moncong pendek dan lidah sangat panjang (hingga ±25 cm).
Cakar kuat dan melengkung tajam.
e) Perkembangbiakan
Beruang madu berkembang biak secara vivipar dengan lama kehamilannya
sekitar 95-96 hari, anak yang dilahirkan biasanya 2 ekor dan disusui selama 18
bulan.
f) Habitat/Lokasi
Umumnya ditemukan di hutan tropis Asia Tenggara, yaitu hutan primer dan
hutan sekunder termasuk di Indonesia (Kalimantan dan Sumatera), Malaysia,
Thailand, dan Myanmar, terutama di hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan
hutan bakau, mereka lebih menyukai wilayah yang lebat dengan banyak pepohonan
untuk memanjat dan mencari makanan seperti madu, serangga, buah-buahan, dan
biji bijian, serta biasanya menghindari daerah yang padat penduduk atau terbuka.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Beruang madu yang diamati terlihat menunjukkan tanda-tanda kegelisahan
yang ditunjukkan dengan perilaku berjalan bolak-balik di area kandangnya.
Beruang tersebut juga sering menjulurkan lidah, sehingga diduga mengalami rasa
haus atau merasa kepanasan. Meskipun ditempatkan di kawasan yang tidak berisik,
perilaku gelisah ini kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, suhu, atau
rasa tidak nyaman terhadap ruang geraknya.
h) Interaksi yang Teramati
Interaksi yang teramati pada beruang madu lebih banyak terjadi antara
beruang dengan lingkungan sekitarnya daripada dengan makhluk hidup lain.
Perilaku berjalan bolak-balik menunjukkan respons beruang terhadap ruang yang
terbatas atau kondisi lingkungan yang membuatnya tidak nyaman. Kebiasaan
menjulurkan lidah menandakan adanya kebutuhan fisiologis kepanasan, yang
merupakan bentuk interaksi tubuh beruang dengan suhu dan ketersediaan air di
sekitarnya.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Beruang madu memiliki peranan ekologis penting sebagai pemakan buah
dan serangga, sehingga membantu penyebaran biji-bijian dan pengendalian
populasi serangga di habitatnya. Selain itu, perilaku mereka memanjat pohon
untuk mencari madu atau serangga turut membuka celah cahaya di hutan yang
mendukung pertumbuhan tanaman lain, sementara peran mereka dalam rantai
makanan juga menjaga keseimbangan ekosistem, menjadikan keberadaan beruang
madu penting bagi kesehatan hutan tropis.
4. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
a) Deskripsi Umum
Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan
semua sub-spesies Harimau yang hidup saat ini. Jantan dewasa bisa memiliki
tinggi hingga 60cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250cm dan
berat hingga 140kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198cm dan berat
hingga 91kg.
Gambar 4. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Mammalia
Ordo
Carnivora
Familia
Felidae
Genus
Phantera
Species
Panthera tigris
Subspecies
Panthera tigris sumatrae
c) Ciri-Ciri Morfologi
Memiliki kulit loreng atau belang yang khas, berwarna dasar coklat kekuningan
hingga jingga dengan garis-garis hitam vertikal yang lebih rapat dan gelap dibandingkan
subspesies harimau lainnya. Harimau tersebut terlihat sedang berbaring santai di area
berumput, menunjukkan tubuh yang padat dan proporsional. Harimau sumatra umumnya
memiliki ukuran tubuh relatif paling kecil di antara subspesies harimau yang masih hidup,
yang memungkinkannya bergerak lincah di hutan lebat.
d) Ciri Khas
Ukuran tubuh paling kecil dibandingkan subspesies harimau lain
Bulu berwarna oranye tua dengan belang hitam yang rapat dan tebal
Memiliki surai tipis di sekitar leher terutama jantan
Kumis panjang dan gigi taring sangat tajam
Cakar kuat dan kaki berotot
Ekornya relatif panjang
Hewan soliter (penyendiri) dan teritorial
e) Perkembangbiakan
Harimau Sumatra berkembang biak secara vivipar (melahirkan). Betina
biasanya melahirkan 2–4 anak harimau dalam satu kali kelahiran setelah masa
kehamilan sekitar 3,5 bulan (sekitar 103 hari). Anak harimau lahir dalam kondisi
buta dan bergantung sepenuhnya pada induknya. Selama beberapa bulan pertama,
induk merawat anaknya dengan memberikan ASI, mengajarkan berburu, dan
melindungi dari predator. Anak harimau mulai belajar berburu secara mandiri pada
usia sekitar 1–2 tahun.
f) Habitat/Lokasi
Harimau Sumatera hanya ditemukan di Pulau Sumatra, Indonesia, terutama
di hutan hujan tropis, hutan pegunungan, serta hutan rawa dan gambut yang lebat,
yang menyediakan tempat berlindung dan wilayah berburu.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan, pada siang hari harimau Sumatera terlihat
dalam kondisi lemas dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur atau
beristirahat. Hewan tersebut jarang melakukan aktivitas yang berarti dan cenderung
berdiam diri di tempat yang teduh. Perilaku ini menunjukkan bahwa harimau
Sumatera lebih aktif pada waktu tertentu, terutama sore hingga malam hari
(nokturnal atau krepuskular).
h) Interaksi yang Teramati
Pada siang hari, harimau tampak memilih beristirahat di area yang teduh
sebagai respons terhadap suhu yang lebih panas, sehingga interaksinya dengan
lingkungan berupa pemanfaatan tempat yang nyaman untuk menghemat energi.
Tidak terlihat adanya interaksi langsung dengan pengunjung maupun hewan lain,
karena harimau bersifat soliter dan menjaga jarak. Perilaku diam dan tenang ini
juga menunjukkan adaptasinya terhadap lingkungan penangkaran, di mana
rangsangan dari luar tetap direspons dengan menjaga kewaspadaan tanpa
menunjukkan agresivitas.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Sebagai predator puncak, harimau mencerminkan keseimbangan rantai
makanan di alam, sehingga keberadaannya menjadi simbol penting bagi
kelestarian ekosistem hutan Sumatra. Di kebun binatang, harimau Sumatera
berperan sebagai satwa edukatif yang membantu meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga satwa langka dan habitatnya.
Keberadaannya juga mendukung program konservasi dan pelestarian spesies yang
terancam punah, sekaligus menjadi sarana penelitian ilmiah terkait perilaku,
reproduksi, dan kesehatan satwa liar. Melalui peran tersebut, harimau Sumatera di
Ragunan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga memiliki nilai ekologis
dan konservasi yang sangat penting.
5. Biawak Salvator (Varanus salvator)
a) Deskripsi Umum
Biawak Salvatore adalah sejenis reptil besar yang termasuk dalam keluarga
biawak (Varanidae), terkenal karena tubuhnya yang kekar, bersisik kasar, dan
gerakannya yang lincah. Berwarna coklat gelap kehitaman dengan bintik kuning
dibawahnya. Mempunyai leher dan moncong yang panjang. Memiliki indra
penciuman yang tajam. Panjang tubuh sekitar 1-5-2 meter. Berat maksimum bisa
mencapai 50kg.
Gambar 5. Biawak Salvator (Varanus salvator)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Reptilia
Ordo
Squamata
Familia
Varanidae
Genus
Varanus
Species
Varanus salvator
c) Ciri-Ciri Morfologi
Biawak salvator (Varanus salvator) merupakan reptil besar yang hidup
setengah air dan banyak ditemukan di sekitar sungai, rawa, atau danau. Tubuhnya
panjang dan ramping, dapat mencapai 1,5–2,5 meter, dengan kulit bersisik kasar
berwarna hitam, abu-abu, atau cokelat serta bintik-bintik kuning pucat di seluruh
tubuhnya. Biawak memiliki kepala memanjang, lidah panjang bercabang, kaki
yang kuat dengan cakar tajam, serta ekor panjang berotot yang digunakan untuk
berenang dan bertahan diri. Hewan ini aktif pada siang hari dan termasuk karnivora
yang memangsa ikan, katak, burung, serta hewan kecil lainnya.
d) Ciri Khas
Bertubuh sangat panjang dan besar
Kulit bersisik kasar dengan bintik-bintik kuning di atas dasar warna hitam
atau cokelat
Lidah panjang bercabang
Ekor sangat panjang dan kuat
Cakar tajam dan kaki kuat
Sangat pandai berenang (semiakuatik)
Pemakan segala (karnivora & bangkai
e) Perkembangbiakan
Perkembangbiakan secara ovipar, yaitu dengan cara bertelur. Seekor betina
dapat menghasilkan sekitar 20 butir telur dalam satu musim bertelur. Telur
diletakkan dalam lubang yang kedalamannya mencapai 30cm. telur biasanya akan
menetas sekitar 240 hari. Musim kawin terjadi saat musim hujan.
f) Habitat/Lokasi
Biawak salvator hidup di daerah berair atau lembap seperti sungai, rawa,
danau, hutan bakau, dan persawahan. Hewan ini menyukai lingkungan yang dekat
dengan sumber air karena pandai berenang dan sering berburu di area tersebut.
Selain di alam liar, biawak juga dapat ditemukan di saluran air, lingkungan
perkotaan, dan tempat pembuangan sampah yang masih menyediakan makanan.
Biawak salvator tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk
Indonesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi), Thailand, Malaysia, Filipina,
hingga Sri Lanka.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Biawak salvator terlihat lebih banyak berdiam di satu tempat seolah sedang
memantau situasi di sekitarnya. Sesekali, hewan ini menjulurkan lidahnya yang
bercabang untuk mendeteksi bau dan keberadaan mangsa atau ancaman, yang
merupakan ciri khas indra penciumannya. Perilaku diam disertai pengamatan yang
waspada menunjukkan bahwa biawak sedang berada pada fase siaga, baik untuk
mencari makanan maupun menghindari gangguan.
h) Interaksi yang Teramati
Interaksi yang diamati pada biawak salvator di kebun binatang lebih
dominan dengan lingkungannya. Biawak terlihat diam sambil mengamati sekitar
dan sesekali menjulurkan lidah untuk mendeteksi bau serta perubahan di
sekitarnya. Hal ini menunjukkan sikap waspada terhadap lingkungan dan
keberadaan makhluk lain di sekitarnya.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Biawak salvator memiliki peranan ekologis yang penting dalam menjaga
keseimbangan ekosistem. Sebagai pemangsa dan pemakan bangkai, biawak
membantu mengontrol populasi hewan kecil seperti tikus dan katak, sekaligus
membersihkan sisa-sisa bangkai yang dapat menyebabkan penyakit. Dengan
aktivitas tersebut, biawak turut menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi
penyebaran patogen. Selain itu, keberadaannya di kebun binatang atau kawasan
konservasi juga memiliki nilai edukatif bagi masyarakat tentang pentingnya
menjaga kelestarian reptil dan keseimbangan alam.
6. Komodo (Varanus komodoensis)
a) Deskripsi Umum
Komodo merupakan hewan endemik Indonesia, ia adalah Kadal terbesar di dunia,
dengan rata-rata panjang 2-3 m. Komodo dewasa biasanya memiliki berat sekitar 70 kg.
Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan
lebih panjang daripada Komodo betina. Makanan komodo adalah babi hutan, kambing,
kerbau, dan mamalia kecil.
Gambar 6. Komodo (Varanus komodoensis)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Reptilia
Ordo
Squamata
Familia
Varanidae
Genus
Varanus
Species
Varanus komodoensis
a) Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
Tubuh sangat besar dengan panjang rata-rata 2–3 meter, kulit bersisik kasar
berwarna cokelat keabu-abuan. Kaki kuat dengan cakar tajam, ekor tebal dan
panjang hampir sama dengan panjang tubuh. Kepala besar dengan rahang kuat dan
gigi bergerigi, lidah panjang, kuning dan bercabang. Lubang hidung, mata, dan
telinga relatif kecil sehingga wajah tampak kokoh dan kuat. Komodo adalah spesies
kadal terbesar di dunia. Berat sekitar 70 hingga 90 kilogram, meskipun spesimen
yang lebih besar pernah tercatat. Kulitnya keras, bersisik, dan berwarna cokelat
keabu-abuan atau kemerahan. Sisiknya tebal dan diperkuat oleh osteoderm
(lempeng tulang) kecil yang berfungsi sebagai zirah alami. Memiliki kaki yang
kuat, berotot, dan cakar yang tajam dan panjang, digunakan untuk merobek mangsa
dan menggali sarang. Mulutnya memiliki sekitar 60 gigi bergerigi yang sering
berganti, seperti hiu. Air liurnya sangat berbahaya karena mengandung bisa
(venom), bukan hanya bakteri, yang menyebabkan hipotensi, pendarahan, dan syok
pada mangsa. Memiliki indra penciuman yang sangat baik, terutama menggunakan
lidahnya yang bercabang (forked tongue) untuk mendeteksi bau bangkai atau
mangsa dari jarak hingga 4-9 kilometer.
b) Ciri Khas
Kadal terbesar di dunia dan hanya ditemukan alami di Indonesia.
Gigitan komodo mengandung racun dan bakteri yang dapat menyebabkan luka
serius dan melemahkan mangsa.
Memiliki kemampuan berenang dan berjalan jauh sehingga mampu
menjelajahi area jelajah yang luas.
Memiliki racun (venom) kompleks yang mematikan, yang membantu
melumpuhkan dan membunuh mangsanya.
Kemampuan untuk bereproduksi tanpa pejantan merupakan ciri biologis yang
sangat unik dan khas.
c) Perkembangbiakan
Komodo berkembang biak secara ovipar (bertelur). Betina dapat
menghasilkan sekitar 20 butir telur dalam satu musim berbiak. Telur diletakkan
dalam lubang tanah atau sarang bekas burung gosong, dengan masa inkubasi sekitar
7–8 bulan. Bereproduksi secara ovipar (bertelur). Betina dewasa mulai bertelur
sekitar usia 9-10 tahun. Mereka biasanya bertelur di sarang yang digali di lereng
bukit atau di dalam sarang burung Maleo yang sudah tidak terpakai. Telur menetas
setelah masa inkubasi sekitar 7 hingga 9 bulan. Anak komodo yang baru menetas
segera memanjat pohon untuk menghindari pemangsa, termasuk komodo dewasa.
Komodo betina memiliki kemampuan langka untuk bereproduksi secara aseksual
melalui partenogenesis (perkembangan embrio tanpa pembuahan oleh jantan) jika
tidak ada jantan yang tersedia.
d) Habitat/Lokasi
Habitat alami berupa padang rumput kering terbuka, savana, dan hutan
tropis musim kering. Sebaran alaminya di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili
Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara Timur. Dalam pengamatan di kebun
binatang, komodo ditempatkan di kandang luas dengan tanah, batu, dan sedikit
vegetasi agar mirip habitat aslinya. Status konservasi komodo adalah terancam.
e) Catatan Hasil Pengamatan
Komodo sering terlihat berjemur di pagi hari untuk menaikkan suhu tubuh
dan menjadi lebih aktif. Pada siang hari yang panas, komodo cenderung beristirahat
di tempat teduh atau di balik batu. Saat merasa terganggu atau mengejar mangsa,
komodo dapat berlari cukup cepat dalam waktu singkat. Lidahnya sering dijulurkan
keluar untuk mengindra bau di udara.
f) Interaksi yang Teramati
Komodo berinteraksi dengan tanah/rumput (berjemur/beristirahat), udara
(bernapas), dan mungkin sedang mengatur suhu tubuhnya (thermoregulation)
dengan berjemur atau mencari tempat teduh (meskipun di gambar terlihat di area
terbuka). Komodo dikelilingi oleh vegetasi (pepohonan dan rumput) yang menjadi
bagian dari habitatnya. Kehadiran pagar pembatas dan lingkungan yang terawat
(seperti di kebun binatang atau area konservasi yang dikelola) menunjukkan bahwa
Komodo ini berada dalam interaksi langsung atau tidak langsung dengan manusia
melalui program konservasi, penangkaran, atau ekowisata. Hal ini bertujuan untuk
melindungi Komodo dari bahaya dan melindungi manusia.
g) Manfaat dan Peranan Ekologis
Sebagai predator puncak, komodo mengontrol populasi herbivora seperti
rusa, babi hutan, dan kambing liar. Menjaga keseimbangan rantai makanan dan
struktur komunitas satwa di savana dan hutan kering. Menjadi dasar pengembangan
ekowisata dan pendidikan konservasi yang memberikan manfaat ekonomi bagi
masyarakat lokal. Komodo adalah predator puncak (apex predator) di
ekosistemnya. Peran utamanya adalah sebagai pengontrol populasi hewan
herbivora seperti rusa, babi hutan, dan kerbau. Mereka juga berperan sebagai
pemakan bangkai (scavenger), membantu membersihkan lingkungan dari hewan
mati, meskipun perburuan aktif adalah cara makan utamanya. Keberadaannya
penting sebagai objek penelitian ilmiah dan pendidikan konservasi. Status
konservasi Komodo adalah terancam.
7. Burung Bayan (Eclectus roratus)
a) Deskripsi Umum
Burung bayan atau nuri bayan adalah salah satu burung paruh bengkok yang
asli Indonesia. Panjang tubuh sekitar 38 cm dengan berat badan 375-550 gram.
Burung Nuri Bayan jantan memiliki bulu yang didominasi warna hijau, sedangkan
Nuri Bayan betina berbulu merah. Makanan burung bayan adalah biji-bijian dan
buah-buahan.
Gambar 7. Burung Bayan (Eclectus roratus)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Aves
Ordo
Bucerotiformes
Familia
Bucerotidae
Genus
Rhyticeros
Species
Rhyticeros undulatus
c) Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
Burung ini berukuran sedang dengan paruh melengkung kuat khas kelompok
paruh bengkok. Jantannya didominasi bulu hijau cerah dengan aksen merah atau biru,
serta paruh jingga dan kuning yang mencolok. Betinanya tampil kontras dengan bulu
merah terang, disertai dada dan punggung biru keunguan serta paruh hitam pekat.
Keduanya memiliki kaki kuat dengan susunan jari zygodactyl, dua di depan dan dua di
belakang yang memudahkan mereka memanjat dan bertengger. Pada jantan, warna
hijau cemerlang membantu kamuflase saat mencari makan, sedangkan betina terkenal
dengan sebutan “Bayan Merah.” Burung ini umumnya berukuran 35-43 cm, bersuara
keras dan nyaring, serta dikenal sangat cerdas hingga mampu menirukan berbagai
suara, termasuk suara manusia.
d) Ciri Khas
Dimorfisme seksual sangat jelas: jantan berwarna hijau, betina berwarna
merahbiru.
Warna bulunya cerah dan mencolok sehingga mudah dikenali.
Memiliki suara keras dan bervariasi untuk berkomunikasi dalam kelompok.
e) Perkembangbiakan
Berkembang biak secara ovipar dengan bertelur di lubang-lubang pohon
tinggi. Betina menjaga telur dan anak di dalam sarang, sedangkan jantan
mengantarkan makanan. Jumlah telur sedikit sehingga keberhasilan perkembangan
sangat bergantung pada keamanan sarang. Bersarang di dalam lubang pohon yang
tinggi (sekitar 14-22 meter di atas tanah) untuk menghindari predator dan genangan
air. Nuri Bayan betina sering menunjukkan perilaku poliandri (memiliki lebih dari
satu pasangan jantan) yang kooperatif. Jantan-jantan ini akan bekerja sama untuk
membawa makanan ke sarang, di mana betina menjaga sarangnya dengan sangat
ketat dan hampir tidak pernah meninggalkannya. Hal ini diyakini terjadi karena
keterbatasan atau kelangkaan lubang sarang yang baik di hutan.
f) Habitat/Lokasi
Habitat burung bayan di Hutan primer dan perkebunan. Di Indonesia
banyak dijumpai di Maluku, beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur, dan Papua.
Di tempat konservasi, burung bayan dipelihara di kandang luas dengan tenggeran
kayu dan tempat pakan. Penyebarannya Cina dan Eropa, status konservasi yaitu
bahaya/dilindungi.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Aktif pada pagi dan sore hari dengan vokalisasi yang keras dan nyaring.
Sering terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil di tajuk pohon atau
tenggeran tinggi. Dalam penangkaran, burung sering memanjat, bermain dengan
paruh, dan berinteraksi satu sama lain.
h) Interaksi yang Teramati
Berinteraksi dengan pohon buah sebagai sumber pakan dan tempat
bersarang. Dalam penangkaran, tampak interaksi dengan manusia saat pemberian
pakan dan perawatan kandang. Antarindividu sering melakukan grooming ringan
dan saling memanggil. Nuri Bayan hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Interaksi utama adalah betina yang dominan teritorial terhadap lubang sarang dan
jantan yang fokus mencari makan untuk betina dan anak-anaknya (allofeeding).
Burung ini sering terlihat bergelantung di ranting-ranting pohon tinggi untuk
mencapai buah dan biji. Interaksi antar jenis kelamin ditandai oleh dimorfisme
warna yang mencolok, yang memungkinkan pengenalan jantan dan betina dari
jarak jauh. Betina yang merah mencolok berfungsi sebagai penanda sarang yang
harus diwaspadai oleh betina lain.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Berperan sebagai penyebar biji karena memakan berbagai jenis buah dan
menyebarkan bijinya melalui kotoran. Mendukung regenerasi hutan dan menjaga
keanekaragaman tumbuhan di habitatnya. Menjadi satwa endemik bernilai
ekonomi melalui ekowisata dan edukasi lingkungan. Seperti burung paruh bengkok
lainnya, mereka juga mungkin berperan sebagai penyerbuk bunga tertentu saat
mencari nektar. Walaupun makanan utamanya adalah biji dan buah, mereka juga
memakan serangga, membantu mengendalikan populasi hama serangga di hutan.
8. Burung Julang Emas (Rhinoplax vigil)
a) Deskripsi Umum
Burung julang emas adalah salah satu jenis tubuh berukuran besar (100 cm).
Punggung, sayap, perut hitam. Ekor putih. Burung jantan kepala krem, kantung
leher kuning tidak berbulu dengan ship hilam. Burung belina kepala dan leher
hifam, kantung leher biru. Satwa dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7
Tahun 1999. Makananya adalah buah-buahan dan serangga.
Gambar 8. Burung Julang Emas (Rhinoplax vigil)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Aves
Ordo
Bucerotiformes
Familia
Bucerotidae
Genus
Rhinoplax
Species
Rhinoplax vigil
c) Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
Burung ini berukuran besar dengan paruh panjang serta tonjolan khas (cula
atau casque) di atas paruhnya. Bulu tubuhnya didominasi warna hitam, sementara
kepala dan leher tampak kuning keemasan atau krem. Sayapnya lebar dan kuat,
ekornya panjang, dan kakinya kokoh sehingga mudah bertengger di cabang-cabang
pohon besar. Matanya besar dan tajam, membantu orientasi di tajuk hutan. Dengan
panjang tubuh sekitar 80–90 cm, ciri paling mencolok terletak pada kepala, leher,
dan bentuk cula. Paruhnya sangat besar dan tebal, dilengkapi cula beralur
bergelombang di bagian atas. Pada beberapa individu, kulit di sekitar mata
berwarna biru polos tanpa garis, sedangkan ukuran cula cenderung lebih kecil dan
tidak terlalu menonjol.
d) Ciri Khas
Paruh besar bertanduk dengan bentuk serta warna yang sangat mencolok.
Pola berbiak unik: betina mengurung diri di lubang pohon yang disegel selama
masa pengeraman.
Suara kepakan sayap dan vokalisasi sangat khas.
Bulu tubuh umumnya hitam kecokelatan; bagian perut dan bawah ekor putih
dengan garis hitam di ujung bulu ekor.
Ciri paling menonjol: paruh besar dengan tonjolan padat (helm/casque)
berwarna kuning kemerahan.
Dimorfisme seksual jelas: jantan berkulit leher merah dengan casque lebih
besar; betina berkulit leher biru atau hijau kebiruan dengan casque lebih kecil.
Memiliki serangkaian panggilan keras yang sering diakhiri dengan tawa
nyaring dan dapat terdengar dari jarak jauh.
e) Perkembangbiakan
Sarang berupa lubang pohon yang ditutupi kotoran, burung belina yang
sedang mengeram biasanya dikurung didalam lubang pohon. Telur berwarna putih
berbintik merah dan coklat, Jumlah 1-2 butir. Berbiak bulan Juli-September. kan
berwarna biru polos tanpa garis. Cula lebih kecil dan tidak terlalu mencolok. Betina
akan menyegel dirinya di dalam lubang pohon menggunakan lumpur, campuran
makanan, dan kotorannya sendiri, meninggalkan celah kecil untuk menerima
makanan dari jantan. Jantan akan bertanggung jawab penuh untuk mencari dan
menyediakan makanan bagi betina dan anak-anaknya selama masa inkubasi dan
pemeliharaan awal (sekitar 3-4 bulan).
f) Habitat/Lokasi
Menghuni hutan hujan tropis dataran rendah hingga pegunungan yang
masih lebat. Sering dijumpai di hutan dengan banyak pohon besar penghasil buah.
Di kawasan konservasi, julang emas sering menjadi satwa kunci untuk menarik
wisatawan pengamat burung. Penyebaran burung julang emas ada di India,
Sumatera, Jawa, Bali, dan Asia Tenggara. Status konservasi dari hewan ini adalah
tidak terancam.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Terlihat terbang melintasi tajuk hutan dengan kepakan sayap kuat dan suara
khas. Ketika makan, sering hinggap di pohon besar yang berbuah dan memakan
buah secara berkelompok. Terdengar panggilan suara keras yang dapat terdengar
dari jarak cukup jauh.
h) Interaksi yang Teramati
Berinteraksi erat dengan pepohonan besar sebagai tempat mencari makan
dan bersarang. Dalam kelompok, julang emas menunjukkan interaksi sosial saat
makan dan terbang bersama. Di kawasan wisata, menjadi objek pengamatan dan
pemotretan bagi pengunjung. Interaksi antar pasangan Julang Emas sangat kuat.
Pasangan sering terlihat terbang bersama, dan jantan menunjukkan perhatian yang
intensif kepada betina selama musim kawin dan bersarang (memberi makan saat
betina terkurung). Interaksi dengan Sumber Daya: Mereka berinteraksi dengan
pohon mati atau pohon tua yang memiliki lubang besar, yang sangat penting
sebagai tempat bersarang. Interaksi Mencari Makan: Umumnya mencari makan di
tingkat kanopi pohon, memakan buah-buahan dan kadang-kadang hewan kecil.
Interaksi ini menunjukkan perilaku makan yang berisik dan mencolok saat memetik
buah.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Sebagai frugivora, julang emas menyebarkan biji-biji pohon hutan
berukuran besar. Membantu regenerasi hutan dan mempertahankan struktur
komunitas tumbuhan. Menjadi indikator bahwa hutan masih memiliki pohon besar
yang cocok untuk bersarang
9. Monyet Boti (Macaca tonkeana)
a) Deskripsi Umum
Monyet boti merupakan sebutan lokal untuk salah satu jenis monyet
Sulawesi yang dalam literatur ilmiah dikenal sebagai Macaca tonkeana. Primata ini
hidup berkelompok di hutan tropis Sulawesi dan mempunyai peranan penting
sebagai penyebar biji dan konsumen tingkat menengah di ekosistem hutan..
Makanan monyet boti adalah buah 57%, daun 17%, serangga 8%, bunga 4%, tunas
2%, jamur, moluska, dan vertebrata kecil.
Gambar 9. Monyet Boti (Macaca tonkeana)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Mammalia
Ordo
Primates
Familia
Cercopithecidae
Genus
Macaca
Species
Macaca sp.
c) Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
Primata ini memiliki tubuh berukuran sedang hingga besar dengan bulu
cokelat kehitaman, serta wajah gelap dengan moncong yang tidak terlalu panjang
dan ekor yang pendek atau hampir tak terlihat, terutama pada kelompok macaque
yang dikenal sebagai “boti.” Anggota geraknya kuat, memungkinkan mereka
memanjat pohon maupun bergerak lincah di tanah. Lengan dan kaki yang kokoh
membantu aktivitas sehari-hari, sementara ekspresi wajahnya yang beragam
menunjukkan kemampuan komunikasi sosial yang cukup kompleks.
d) Ciri Khas
Primata endemik Sulawesi dengan wilayah sebaran yang sangat terbatas.
Hidup berkelompok dengan struktur sosial kompleks dan adanya individu
dominan.
Mampu beradaptasi dan sering memanfaatkan sumber pakan dari kebun sekitar
hutan.
Wajah panjang dengan ekspresi mata tajam dan terang, mudah dikenali.
Rambut tubuh tebal dengan warna gelap merata.
Bentuk tubuh kuat dan tegap, mencerminkan kemampuan memanjat serta
bergerak aktif.
Ekor pendek atau sangat singkat, menjadi pembeda utama dari monyet ekor
panjang.
e) Perkembangbiakan
Berkembang biak secara vivipar (melahirkan). Dewasa kelamis umur 49
bulan. Masa mengandung 174-196 hari. Melahirkan anak 1 ekor. Lama hidup
sekitar 20 tahun, dipenangkaran mencapai 37 tahun. Induk betina merawat anaknya
dengan menyusui, menggendong, dan membersihkan tubuh anak.
f) Habitat/Lokasi
Dalam konteks gambar, hewan ini berada di kandang kebun binatang /
penangkaran, terlihat dari jeruji besi dan lantai semen/bata. Di alam liar, mereka
sering menggunakan pepohonan untuk beristirahat dan mencari makan, tetapi juga
bisa turun ke tanah. Menghuni hutan primer dataran rendah, hutan sekunder dan
hutan dataran tinggi hingga ketinggoan 1300 mdpl. Penyebaran ada di Sulawesi
Tengah. Status konservasi dari hewan ini adalah rentan.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Monyet lebih banyak duduk diam sambil mengamati lingkungan sekitar.
Sesekali menggerakkan kepala dan menatap ke arah pengamat/pengunjung. Tidak
terlihat vokalisasi (suara) atau gerakan agresif; terkesan tenang dan waspada.
Hewan berada di kandang besi di kebun binatang/penangkaran. Lantai kandang
berupa semen/bata, di sekelilingnya terdapat jeruji besi vertikal. Lingkungan
merupakan habitat buatan, bukan habitat alami hutan.
h) Interaksi yang Teramati
Hewan tampak duduk diam di belakang jeruji, mengamati lingkungan
(mungkin pengunjung atau penjaga). Tidak ada interaksi langsung dengan hewan
lain, sehingga terlihat *interaksi hewan–lingkungan dan hewan–manusia (diamati
oleh pengunjung). Posisi tubuh yang berhimpit dengan jeruji menunjukkan bahwa
ia menyadari keberadaan manusia di luar kandang dan merespons
dengan memperhatikan. Tidak terlihat interaksi dengan hewan lain di dalam
kandang pada saat pengamatan. Hewan tampak menyesuaikan diri dengan ruang
kandang yang terbatas.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Menyebarkan biji dari buah-buahan yang dimakan sehingga mendukung
regenerasi hutan. Berperan sebagai konsumen tingkat menengah yang
menghubungkan tumbuhan dengan predator yang lebih tinggi. Menunjukkan
keberadaan hutan yang masih menyediakan pakan dan tempat berlindung.
Pengendali populasi serangga dan tumbuhan,memakan serangga, daun muda,
bunga, dan bagian tumbuhan lain sehingga menjaga keseimbangan ekosistem.
Menjadi makanan bagi predator besar di alam, sehingga berperan dalam *rantai
makanan. Di sisi manusia, dapat dimanfaatkan sebagai objek edukasi di kebun
binatang untuk mengenalkan keanekaragaman primata dan pentingnya konservasi.
10. Bekantan (Nasalis larvatus)\
a) Deskripsi Umum
Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari moyet lainnya adalah hidung
panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Bekantan jantan berukuran
lebih besar dari betina. Ukurannya dapat mencapai 75 dengan berat mencapai 24 kg.
Monyet betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg. Bekantan memiliki perut yang
besar karena kebiasaan mengonsumsi makanannya.
Gambar 10. Bekantan (Nasalis larvatus)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Animalia
Phyllum
Chordata
Classic
Mammalia
Ordo
Primates
Familia
Cercopithecidae
Genus
Nasalis
Species
Nasalis lavartus
c) Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
Hidung sangat besar dan menggantung pada jantan dewasa, betina
berhidung lebih kecil. Bulu punggung cokelat kemerahan, perut pucat, wajah krem.
Perut buncit karena lambung bersekat yang kaya mikroba pencerna daun berserat.
Ekor panjang dan anggota gerak kuat untuk bergerak di pepohonan dan berenang.
Tubuh sedang dan besar, berbulu cokelat keoranyean di punggung, bagian perut
lebih terang/putih. Wajah memanjang dengan hidung besar (pada jantan dewasa
hidung sangat panjang dan menggantung). Lengan dan kaki panjang, jari-jari kuat
untuk memanjat dan berpegangan. Ekor panjang, membantu menjaga
keseimbangan ketika bergerak di pepohonan.
d) Ciri Khas
Hidung jantan dewasa sangat besar dan menggantung, menjadi ciri paling
mencolok.
Memiliki perut buncit sebagai adaptasi pencernaan untuk mengolah daun
berserat tinggi.
Termasuk primata semiakuatik yang mampu berenang dengan sangat baik.
Warna bulu cokelat kemerahan dengan bagian perut berwarna putih pucat.
Hidup berkelompok di pepohonan dekat sungai dan jarang menjauh dari
sumber air.
e) Perkembangbiakan
Berkembang biak secara vivipar dengan melahirkan satu anak per
kehamilan. Dewasa kelamin jantan umur 36-60 bulan, betina 60-84 bulan. Masa
mengandung 166 hari. Melahirkan anak 1 ekor. Bekantan berkembang biak secara
seksual dengan pembuahan internal. Termasuk hewan vivipar (melahirkan anak).
Biasanya melahirkan 1 anak per sekali beranak. Induk betina menyusui, membawa,
dan melindungi anaknya dalam kelompok.
f) Habitat/Lokasi
Endemik Pulau Kalimantan (Indonesia, Malaysia, Brunei). Menghuni hutan
mangrove, hutan rawa, dan hutan tepi sungai (riparian). Sering dijumpai di
pepohonan dekat sungai, kanal, dan rawa. Status konservasi hewan ini adalah
terancam punah.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Banyak menghabiskan waktu di pepohonan dekat sungai untuk beristirahat
dan mengamati lingkungan. Pandai berenang dan sering menyeberang sungai
dengan cara melompat dari cabang dan berenang di air. Hidup berkelompok yang
terdiri dari satu jantan dewasa dan beberapa betina beserta anak-anaknya. Bekantan
tampak memegang jeruji kandang dengan salah satu tangan, menunjukkan sifat
arboreal (senang bergelantungan). Posisi tubuh condong ke samping/atas, seolah
sedang bergerak atau berpindah tempat di dalam kandang. Terlihat waspada, tetapi
tidak menunjukkan perilaku agresif. Perilaku yang tampak menandakan usaha
beraktivitas dan bergerak meskipun ruang geraknya terbatas dalam kandang.
h) Interaksi yang Teramati
Menunjukkan interaksi sosial kuat dalam kelompok: bermain, grooming,
dan vokalisasi. Bekantan dengan lingkungan kendang (memanjat, bergantung pada
jeruji). Ada interaksi tidak langsung dengan manusia sebagai
pengamat/pengunjung, karena bekantan berada di kandang untuk dipelihara dan
diamati. Tidak tampak interaksi dengan bekantan lain pada saat foto diambil.
Pengamatan ini memperlihatkan bahwa bekantan sebagai satwa liar harus
beradaptasi dengan lingkungan buatan di penangkaran, sehingga penting menjaga
kenyamanan kandang dan kesejahteraan satwa.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Sebagai pemakan daun dan buah, bekantan membantu mengatur
pertumbuhan vegetasi dan menyebarkan biji. Menjadi indikator kesehatan
ekosistem mangrove dan hutan rawa. Mendukung fungsi ekologis lahan basah dan
menjadi daya tarik ekowisata di Kalimantan. Penyebar biji memakan buah dan
kemudian menyebarkan bijinya lewat kotoran, membantu regenerasi hutan.
Membantu mengontrol pertumbuhan daun dan pucuk muda sehingga struktur
vegetasi tetap seimbang. Menjadi bagian dari rantai makanan (makanan predator
besar) sehingga menjaga keseimbangan ekosistem. Bagi manusia, bekantan
menjadi indikator kesehatan ekosistem mangrove/rawa dan objek edukasi
konservasi.
B. Tumbuhan
1. Pohon Jamblang (Syzygium cumini)
a) Deskripsi Umum
Pohon Jamblang merupakan tanaman buah tropis yang termasuk dalam
keluarga Myrtaceae. Pohon ini memiliki sejarah panjang dalam pengobatan
tradisional, terutama di India dan Asia Tenggara. Secara ekologis, pohon ini dikenal
sangat tangguh dan mampu bertahan dalam kondisi kekeringan. Pohon ini memiliki
siklus hidup yang panjang, dapat mencapai usia puluhan hingga ratusan tahun,
dengan pertumbuhan yang relatif lambat namun stabil. Dalam budaya Jawa, pohon
Jamblang sering dikaitkan dengan mitos dan kepercayaan tertentu, termasuk
sebagai tanaman pelindung.
Gambar 1. Pohon Jamblang (Syzygium cumini)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Magnoliophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Myrtales
Familia
Myrtaceae
Genus
Syzygium
Species
Syzygiumcumini (L.) Skeels
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini memiliki tinggi sekitar 10–20 meter dengan batang berkayu dan
kulit kasar berwarna abu-abu kecokelatan. Daunnya tunggal, berlawanan,
berbentuk lonjong hingga elips dengan panjang 5–15 cm dan permukaan yang
mengilap. Bunganya kecil berwarna putih kehijauan, biasanya muncul dalam
rangkaian di ujung ranting. Buahnya berupa beri berbentuk bulat telur berukuran
1–2 cm, berwarna ungu kehitaman saat matang, berdaging, dan memiliki satu biji.
Sistem akarnya berupa akar tunggang disertai akar lateral yang kuat sehingga
membantu pohon berdiri kokoh.
d) Ciri Khas
Ciri paling khas adalah buah berwarna ungu kehitaman saat matang.
Daun mengeluarkan aroma khas ketika diremas.
Batangnya tinggi dan kokoh, sehingga mudah dikenali dari jauh.
Perubahan warna buah yang drastis menjadi daya tarik utama dari pohon
jamblang.
e) Perkembangbiakan
Perkembangbiakan jamblang terutama melalui biji yang berasal dari buah
matang. Biji yang jatuh ke tanah dan mendapatkan kondisi lembap biasanya mampu
berkecambah dengan baik. Selain itu, pohon ini juga dapat diperbanyak melalui
teknik cangkok untuk mempercepat pertumbuhan. Metode vegetatif ini sering
digunakan untuk budidaya buah dalam skala kecil.
f) Habitat/Lokasi
Tumbuh di daerah tropis, dari dataran rendah hingga ketinggian 500 mdpl.
Ditemukan di hutan sekunder, tepi sungai, pekarangan, dan lahan terbuka.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon jamblang yang diamati terlihat tumbuh dengan baik, ditandai oleh
daun yang rimbun dan warnanya yang hijau tua. Pada bagian batang, ditemukan
tekstur yang sedikit retak namun masih dalam kondisi normal untuk ukuran pohon
dewasa. Kondisi lingkungan sekitar pohon tampak bersih dan cukup mendapat
pencahayaan matahari. Tidak terlihat adanya kerusakan daun akibat hama,
sehingga pohon diperkirakan berada dalam kondisi sehat.
h) Interaksi yang Teramati
Beberapa serangga kecil terlihat hinggap di daun, namun tidak
menyebabkan kerusakan signifikan. Burung kecil juga tampak sesekali
mendekati pohon, kemungkinan untuk mencari buah. Tidak terlihat interaksi
yang merugikan pohon selama pengamatan dilakukan. Secara keseluruhan,
interaksi yang tampak cukup harmonis dengan lingkungan sekitar.
i) Manfaat dan Peranan ekologis
Buah jamblang memiliki manfaat sebagai sumber antioksidan dan sering
digunakan dalam pengobatan tradisional. Pohonnya juga berperan penting sebagai
peneduh dan penyerap karbon di lingkungan. Selain itu, jamblang dapat
menyediakan makanan bagi burung dan serangga. Pohon ini membantu menjaga
kelembapan tanah melalui tajuknya yang rimbun.
2. Pohon Khaya (Khaya anthotheca)
a) Deskripsi Umum
Pohon khaya merupakan jenis mahoni Afrika yang dikenal memiliki batang
lurus dan tinggi, sehingga sering dimanfaatkan sebagai pohon peneduh dan
penghasil kayu. Keberadaannya kini mulai banyak ditemukan di berbagai ruang
terbuka hijau sebagai tanaman lanskap. Pohon ini memiliki daya adaptasi tinggi
terhadap lingkungan tropis yang panas. Secara ekologis, pohon khaya berperan
penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan melalui kemampuan menyerap
karbon.
Gambar 2. Pohon Khaya (Khaya anthotheca)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Magnoliophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Sapindales
Familia
Meliaceae
Genus
Khaya
Species
Khaya Anthotheca
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini dapat tumbuh sangat tinggi, mencapai 30-50 meter, dengan
batang lurus dan silindris yang berkulit abu-abu kecokelatan serta sering
mengelupas dalam kepingan kecil. Daunnya majemuk menyirip genap dengan 4-8
pasang anak daun yang ujungnya meruncing. Bunganya berukuran kecil, berwarna
putih kekuningan, dan tersusun dalam malai. Buahnya berupa kapsul berkayu
berbentuk bulat yang akan membuka menjadi 4-5 katup saat matang dan berisi biji
yang memiliki sayap. Sistem perakarannya berupa akar tunggang yang dalam,
membuat pohon ini kokoh dan mampu tumbuh besar di habitat alaminya.
d) Ciri Khas
Batangnya menjulang tinggi dan lurus, menjadi ciri paling mudah dikenali.
Daun majemuk tersusun rapi sehingga tampak khas dan berbeda dari jenis
lain.
Kulit batang sedikit berserat dan menjadi salah satu karakter yang menonjol.
Tajuk melebar sehingga bentuk keseluruhan pohon terlihat berbeda dari
pohon sejenis.
e) Perkembangbiakan
Perkembangbiakan pohon khaya biasanya melalui biji yang terdapat dalam
buahnya. Biji tersebut dapat berkecambah dengan baik apabila ditanam pada
media yang cukup lembap dan mendapat sinar matahari. Selain melalui biji,
pohon ini juga dapat diperbanyak secara vegetatif pada kondisi tertentu. Proses
pembibitan sering dilakukan secara terkontrol untuk menjaga kualitas
pertumbuhan.
f) Habitat/Lokasi
Khaya tumbuh di daerah tropis yang memiliki curah hujan sedang hingga
tinggi. Pohon ini sering dijumpai di taman kota, pinggir jalan, dan area kampus.
Lingkungan yang cocok bagi pohon ini adalah tanah yang cukup subur dan tidak
tergenang air.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon Khaya yang diamati memiliki batang yang tegak dan kokoh,
menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Daun-daunnya terlihat segar tanpa tanda-
tanda kekeringan, meskipun area sekelilingnya cukup terbuka dan terpapar sinar
matahari langsung. Pada beberapa cabang, terlihat adanya tunas baru yang
menunjukkan regenerasi aktif. Tidak tampak adanya serangan serangga besar,
hanya sedikit aktivitas semut yang wajar terjadi pada permukaan batang.
h) Interaksi yang Diamati
Selama pengamatan, terlihat beberapa burung kecil hinggap di ranting
pohon. Serangga seperti semut dan kumbang kecil juga tampak beraktivitas di
permukaan daun. Tidak ditemukan interaksi merugikan yang dapat mengganggu
kesehatan pohon. Aktivitas hewan-hewan kecil di sekitarnya menunjukkan
keseimbangan ekosistem yang baik.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Pohon khaya memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena kayunya yang kuat
dan tahan lama. Secara ekologis, pohon ini berfungsi sebagai penyerap karbon yang
efektif di kawasan perkotaan. Tajuknya yang rindang membantu menciptakan area
teduh dan menurunkan suhu lingkungan. Selain itu, pohon ini juga menjadi habitat
bagi berbagai jenis burung dan serangga.
3. Pohon Sawo Duren (Chrysophyllum cainito L.)
a) Deskripsi Umum
Pohon sawo duren merupakan pohon buah tropis yang dikenal memiliki
daun dengan dua warna berbeda di masing-masing sisi. Buahnya berbentuk bulat
dan memiliki rasa manis ketika matang. Pohon ini sering ditanam di pekarangan
rumah dan area publik karena bentuknya yang menarik. Selain bernilai estetis,
pohon ini juga memiliki nilai ekologis dan ekonomi.
Gambar 3. Pohon Sawo Duren (Chrysophyllum cainito L.)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Magnoliophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Ericales
Familia
Sapotaceae
Genus
Chrysophyllum
Species
Chrysophyllum Cainito
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini memiliki tinggi sekitar 1525 meter dengan batang lurus berkulit
cokelat keabu-abuan yang mengeluarkan getah putih. Daunnya tunggal berbentuk
oval hingga lanset, dengan permukaan atas hijau tua mengilap dan bagian bawah
keemasan atau keperakan karena adanya bulu halus. Bunganya kecil berwarna putih
keunguan dan biasanya muncul di ketiak daun. Buahnya berbentuk bulat
berdiameter 510 cm, berkulit hijau atau ungu dengan daging putih yang lunak serta
biji hitam mengilap. Sistem akarnya berupa akar tunggang yang kuat.
d) Ciri Khas
Warna daun bagian bawah yang berkilau seperti tembaga menjadi ciri paling
khas dan mudah dikenali.
Buah mengalami perubahan warna saat matang, sehingga menjadi penanda
penting dalam mengidentifikasi pohon ini.
Daunnya memiliki tekstur tebal, memberi tampilan yang lebih kokoh dan
menarik.
Kombinasi ciri-ciri tersebut membuat pohon ini mudah dibedakan dari jenis
sawo lainnya.
e) Perkembangbiakan
Pohon sawo duren berkembang biak melalui biji yang terdapat dalam
buahnya. Biji yang ditanam pada media tanah gembur akan berkecambah dalam
beberapa minggu. Selain itu, pohon ini juga dapat diperbanyak secara vegetatif
seperti cangkok untuk mempercepat proses berbuah. Metode vegetatif banyak
digunakan dalam budidaya.
f) Habitat/Lokasi
Sawo duren tumbuh baik di wilayah tropis dengan sinar matahari yang
cukup. Pohon ini sering dijumpai di halaman rumah, kebun, dan taman.
Lingkungan yang cocok adalah tanah dengan kelembapan sedang dan tidak terlalu
kering.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon sawo duren ini menunjukkan kondisi pertumbuhan yang baik dengan
daun hijau mengilap di bagian atas dan warna tembaga yang jelas pada bagian
bawah. Pada ranting bagian tengah tampak beberapa buah muda yang masih dalam
tahap perkembangan. Tidak tampak tanda-tanda daun berlubang atau menguning
yang biasanya menandakan stres tanaman. Lingkungan sekitar pohon cukup
lembap sehingga mendukung pertumbuhan daunnya yang tebal.
h) Interaksi yang Teramati
Beberapa serangga terlihat hinggap di daun dan bunga pohon, namun tidak
menunjukkan aktivitas merusak. Burung kecil tampak sesekali datang untuk
mencari tempat bertengger. Tidak terlihat adanya gejala kerusakan pada daun
maupun batang selama pengamatan. Interaksi yang muncul tampak alami dan tidak
mengganggu kesehatan pohon.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Buah sawo duren dapat dikonsumsi dan memiliki nilai gizi yang cukup
tinggi. Pohonnya memberikan keteduhan dan membantu menjaga kualitas udara di
sekitarnya. Selain itu, pohon ini juga menjadi habitat bagi burung dan serangga
kecil. Secara ekologis, pohon ini turut membantu memperkaya keanekaragaman
hayati.
4. Pohon Sulatri (Calophyllum soulattri Burm. f.)
a) Deskripsi Umum
Pohon sulatri merupakan salah satu spesies pohon tropis yang banyak
ditemukan di daerah pesisir maupun hutan dataran rendah. Pohon ini dikenal
memiliki kayu yang cukup kuat sehingga sering dimanfaatkan dalam konstruksi
ringan. Selain itu, pohon sulatri memiliki penampilan yang menarik dengan daun
hijau mengilap. Secara ekologis, kehadirannya memberikan kontribusi penting
terhadap kestabilan ekosistem sekitar.
Gambar 4. Pohon Sulatri (Calophyllum soulattri Burm. f.)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Magnoliophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Malpighiales
Familia
Calophyllaceae
Genus
Calophyllum
Species
Calophyllum Soulattri
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini umumnya tumbuh hingga mencapai tinggi 2035 meter, dengan
batang lurus dan kulit berwarna cokelat gelap yang sangat keras serta berat.
Daunnya tunggal, tebal, dan memiliki permukaan yang licin sehingga tampak
kokoh dan mengilap. Informasi mengenai bunga dan buahnya masih terbatas,
namun sistem perakarannya diketahui bertipe tunggang yang kuat, membuat pohon
ini mampu berdiri stabil dan tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan.
d) Ciri Khas
Daun tebal mengilap menjadi ciri paling mencolok pada pohon sulatri.
Kulit batang sangat keras dan sedikit berserat sehingga mudah dikenali.
Buah kecil berbentuk bulat muncul pada musim tertentu sebagai penanda
tambahan.
Tampilan umum pohon kuat dan kokoh, membuatnya mudah dibedakan dari
jenis lainnya.
e) Perkembangbiakan
Pohon sulatri umumnya berkembang biak melalui biji yang terdapat di
dalam buahnya. Biji yang jatuh ke tanah lembap dan mendapat cahaya yang cukup
dapat berkecambah secara alami tanpa banyak intervensi. Penyemaian biji juga
menjadi metode utama dalam proses pembibitan karena tingkat keberhasilannya
tinggi. Meskipun teknik vegetatif seperti stek memungkinkan untuk dilakukan,
metode tersebut tidak sepopuler perbanyakan melalui biji.
f) Habitat/Lokasi
Sulatri tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan curah hujan cukup.
Pohon ini dapat ditemukan di hutan dataran rendah, daerah pesisir, ataupun taman
kota. Tanah yang disenangi adalah tanah yang tidak terlalu kering dan memiliki
drainase baik.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon sulatri terlihat sehat dengan daun tebal yang menunjukkan warna
hijau cerah. Pada beberapa bagian ranting terlihat kuncup bunga kecil, menandakan
pohon sedang berada dalam fase generatif. Terdapat sedikit getah pada area batang,
namun hal tersebut merupakan karakteristik alami pohon ini. Kondisi tanah di
sekitar pohon cukup keras namun tidak menghambat pertumbuhan akarnya secara
signifikan.
h) Interaksi yang Teramati
Selama observasi, tidak tampak interaksi hewan besar dengan pohon ini.
Beberapa serangga kecil terlihat bergerak di sekitar daun namun tidak merusak
permukaannya. Tidak ada tanda-tanda serangan jamur atau hama yang signifikan.
Pohon tampak stabil dalam ekosistem kecil yang ada di lokasi pengamatan.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Kayu sulatri dikenal kuat dan sering digunakan sebagai bahan konstruksi
ringan serta pembuatan perabot. Getah dari pohon ini dalam beberapa budaya
digunakan sebagai bahan obat tradisional. Secara ekologis, pohon ini membantu
menjaga kestabilan tanah melalui perakarannya yang kuat. Tajuk pohon juga
menyediakan tempat berlindung bagi beberapa jenis burung dan serangga.
5. Pohon Ketapang Kencana (Terminalia mantaly)
a) Deskripsi Umum
Pohon Ketapang Kencana merupakan salah satu jenis pohon peneduh
yang banyak ditanam di area publik karena bentuk tajuknya yang berlapis dan
rapi. Pohon ini memiliki karakter pertumbuhan yang cenderung cepat serta
mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan perkotaan. Struktur
percabangannya yang horizontal membuat pohon ini tampak estetik dan sering
dijadikan elemen penghias taman. Secara keseluruhan, pohon ini dikenal
sebagai tanaman yang kuat, mudah dirawat, dan memberikan nilai visual yang
tinggi.
Gambar 5. Pohon Ketapang Kencana (Terminalia mantaly)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Magnoliophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Myrtales
Familia
Combretaceae
Genus
Terminalia
Species
Terminalia mantaly
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini memiliki tajuk yang tersusun secara bertingkat dengan arah
horizontal, memberi tampilan rapi dan berlapis. Daunnya kecil berbentuk elips
berwarna hijau cerah sehingga tampak lembut ketika tertiup angin. Batangnya
tegak dengan kulit berwarna cokelat keabu-abuan, sementara percabangannya
cenderung mendatar dan tersusun teratur, membuat keseluruhan bentuk pohon
terlihat simetris dan teratur.
d) Ciri Khas
Memiliki pola percabangan bertingkat yang rapi dan terstruktur.
Daunnya berukuran kecil sehingga memberi kesan elegan dan ringan pada
tajuk.
Mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan perkotaan.
Menjadi pilihan populer untuk penghijauan karena tampilannya yang
menarik dan teratur.
e) Perkembangbiakan
Perkembangbiakan pohon ini umumnya dilakukan melalui biji, meskipun
pada beberapa kondisi dapat pula dilakukan secara stek batang. Biji yang telah
matang biasanya memiliki daya kecambah yang cukup baik jika ditanam pada
media yang gembur. Proses pembibitan membutuhkan penyiraman teratur dan
intensitas cahaya matahari yang cukup. Dengan perawatan yang tepat, tanaman
muda dapat tumbuh dengan cepat hingga mencapai ukuran ideal untuk
dipindahkan.
f) Habitat/Lokasi
Ketapang Kencana sering ditemukan di lingkungan perkotaan, terutama di
taman, trotoar, halaman sekolah, dan area perumahan. Pohon ini dapat tumbuh pada
tanah yang tidak terlalu subur, sehingga cocok dijadikan tanaman penghijauan di
berbagai kondisi lahan. Lokasi pengamatan menunjukkan bahwa pohon ini tumbuh
di area yang cukup terbuka dan mendapat sinar matahari langsung sepanjang hari.
Kondisi ini sangat sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya yang menyukai
lingkungan terang.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon yang diamati menunjukkan tajuk yang simetris dan tersusun rapi, ciri
khas dari spesies ini. Daunnya tampak segar dengan warna hijau merata,
menandakan pohon berada dalam kondisi sehat. Lingkungan sekitar pohon terlihat
bersih dan cukup terpelihara, sehingga pertumbuhan tidak terganggu oleh aktivitas
luar. Tidak tampak adanya tanda-tanda kerusakan akibat hama atau penyakit,
sehingga pohon diperkirakan dapat tumbuh optimal dalam jangka panjang.
h) Interaksi yang Teramati
Selama pengamatan, terlihat beberapa serangga kecil yang hinggap di daun,
menunjukkan bahwa pohon ini menjadi tempat singgah bagi organisme tertentu.
Burung kecil sesekali terlihat bertengger pada ranting bagian atas. Aktivitas ini
menunjukkan bahwa pohon Ketapang Kencana berperan dalam menyediakan
habitat mikro bagi fauna kecil. Selain itu, interaksi manusia dengan pohon ini
berupa pemanfaatan sebagai peneduh di area pejalan kaki.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Ketapang Kencana memiliki peran penting sebagai penyedia keteduhan
karena tajuknya yang lebar dan rapat. Pohon ini juga dapat membantu mengurangi
suhu udara di sekitarnya, terutama pada area yang didominasi beton atau aspal.
Selain itu, pohon ini berperan sebagai penyerap polutan dan penyedia oksigen bagi
lingkungan perkotaan. Secara estetika, pohon ini memperindah lanskap dan
meningkatkan kenyamanan ruang luar.
6. Pohon Damar (Agathis dammara)
a) Deskripsi Umum
Damar (Agathis dammara) merupakan salah satu tumbuhan genus Agathis
yang tumbuh secara alami di Indonesia. Jenis ini memiliki pertumbuhan alami yang
cukup baik dan telah dipilih untuk di kembangkan dalam bentuk hutan produksi
(Dinas Kehutanan, 1976). Damar (Agathis dammara) adalah pohon konifera asli
Indonesia.Damar dapat dikatakan sebagai sumber daya hutan yang lestari dan juga
sangat menguntungkan.
Gambar 6. Pohon Damar (Agathis dammara)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Tracheophyta
Classic
Pinopsida
Ordo
Pinales
Familia
Araucariaceae
Genus
Agathis
Species
Agathis dammara
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini memiliki akar tunggang kuat dengan sebaran lateral luas dan
batang tinggi, lurus, cokelat keabu-abuan, sedikit bercabang di bagian bawah.
Daunnya tunggal, tebal, kaku, lonjong, hijau tua mengilap. Sebagai
Gymnospermae, pohon ini memiliki strobilus jantan dan betina, dengan buah
berupa kerucut berisi biji bersayap yang mudah tersebar oleh angin.
d) Ciri Khas
Menghasilkan getah damar (resin) yang keluar saat batang dilukai.
Batang tinggi lurus dengan sedikit cabang di bagian bawah, menyerupai
pohon konifer lain.
Daun tebal, kaku, dan bergetah ketika diremas.
Tajuk berbentuk kerucut ketika muda dan semakin melebar saat pohon
dewasa.
Termasuk pohon hutan tropis yang dapat hidup ratusan tahun.
Getah dan kayunya memiliki aroma khas seperti resin atau terpentin.
e) Perkembangbiakan
Pohon damar dapat dilakukan secara generatif (dengan biji) dan vegetatif
(melalui stek). Perkembangbiakan generatif secara alami sulit karena biji damar
cepat rusak, sehingga perbanyakan vegetatif seperti melalui stek lebih umum
dilakukan.
f) Habitat/Lokasi
Hutan hujan dataran rendah dan pegunungan tropis Asia Tenggara,
khususnya di Indonesia (Sulawesi, Maluku, Papua) dan Filipina, pada ketinggian
hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Habitat idealnya adalah hutan dengan
curah hujan tinggi, tanah subur yang gembur, serta suhu yang hangat antara 28°C
-34°C.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon damar yang diamati memiliki tinggi sekitar ± 1015 meter dengan
batang lurus dan kulit berwarna cokelat keabu-abuan. Daunnya terlihat tebal dan
kaku, tersusun rapi dan berwarna hijau tua mengilap. Beberapa cabang bagian atas
membentuk tajuk yang melebar. Pada salah satu bagian batang tampak getah
damar mengering. Di sekitar pohon tampak serasah daun kering dan beberapa biji
kecil bersayap yang jatuh. Lingkungan sekitar pohon terasa lebih sejuk dan
lembap karena tajuknya yang rapat.
h) Interaksi yang teramati
Pohon damar melibatkan beberapa organisme pendamping dan aspek
lingkungan yaitu interaksi mutualisme dengan mikoriza arbuskula di akar, yang
membantu penyerapan nutrisi dan air dari tanah, serta interaksi dengan berbagai
serangga yang dapat berperan sebagai penyerbuk. Selain itu, pohon damar juga
berinteraksi dengan organisme dekomposer seperti jamur dan bakteri di sekitar
pangkalnya, yang membantu mengurai bahan organik di lantai hutan dan
mengembalikan nutrisi ke ekosistem.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Pohon damar memiliki peran ekologis penting sebagai penyerap karbon dan
penghasil oksigen, penjaga keseimbangan ekosistem, serta pencegah banjir. Selain
itu, manfaat ekologisnya juga mencakup penyediaan habitat bagi satwa liar,
Penyerap karbon dan penghasil oksigen, Penjaga keseimbangan ekosistem,serta
Penangkap air dan pencegah banjir
7. Pohon Bungur Lilin (Lagerstroemia speciosa)
a) Deskripsi Umum
Bungur (Lagerstroemia) adalah sejenis tumbuhan berwujud pohon atau
perdu yang dikenal sebagai pohon peneduh jalan atau pekarangan. Bunganya
berwarna merah jambu, bila mekar bersama-sama akan tampak indah.
Perbanyakan anakannya berasal dari biji yang keluar setelah proses pembungaan
selesai. Bijinya berbentuk bulat berwarna cokelat sebesar kelereng. Selain itu
bisa juga diperbanyak dengan pencangkokan.
Gambar 7. Pohon Bungur Lilin (Lagerstroemia speciosa)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Tracheophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Myrtales
Familia
Lythraceae
Genus
Lagerstroemia
Species
Lagerstroemia speciosa (L.) Pers.
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini memiliki akar tunggang kuat dengan banyak cabang dan batang
berkayu tegak berwarna cokelat keabu-abuan yang sedikit mengelupas. Daunnya
tunggal, tebal, lonjongoval, dan hijau mengilap. Bunganya malai besar, ungu
atau merah muda dengan kelopak berkerut, sedangkan buahnya keras berbentuk
kapsul bulat yang pecah saat matang dan berisi banyak biji kecil.
d) Ciri Khas
Memiliki bunga berwarna ungu atau merah muda dengan kelopak
berkerut seperti kertas.
Kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan dan sering mengelupas tipis.
Daun tebal, lonjong, dan mengilap dengan warna hijau cerah.
Tajuk pohon rimbun dan memberikan banyak naungan.
Berbunga sangat lebat pada musim kemarau hingga tampak mencolok
dari jauh.
e) Perkembangbiakan
Pohon bungur lilin (Lagerstroemia speciosa) berkembang biak secara
generatif dan vegetatif. Perkembangbiakan generatif terjadi melalui biji yang
dihasilkan dari buah berbentuk kapsul. Ketika buah matang, kapsul akan pecah dan
melepaskan biji-biji kecil yang kemudian tersebar oleh angin atau jatuh di sekitar
pohon induk. Selain melalui biji, bungur lilin juga dapat diperbanyak secara
vegetatif, misalnya dengan cara stek batang atau cangkok. Metode cangkok sering
dipilih karena mampu menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat sama dengan
induknya serta lebih cepat berbunga.
f) Habitat/Lokasi
Bungur ditemukan tersebar di Filipina, Thailand, Indonesia, dan Jepang.
Selain itu,Bungur dapat ditemukan di hutan jati, baik di tanah gersang maupun di
tanah subur hutan heterogen berbatang tinggi. Kadang-kadang, bungur ditanam
sebagai pohon hias atau pohon pelindung di tepi jalan. Di Jawa, bungur dapat
tumbuh sampai ketinggian 800 m dpl.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon yang diamati memiliki tinggi sekitar 610 meter dengan batang tegak
dan kulit batang sedikit mengelupas. Daun terlihat tebal dan hijau mengilap. Terlihat
beberapa malai bunga berwarna ungu yang mulai mekar. Di bawah pohon terdapat
buah kering berbentuk kapsul. Lingkungan sekitar terasa teduh karena tajuk pohon
cukup rimbun. Beberapa serangga, seperti lebah dan kupu-kupu, tampak mendekati
bunga.
h) Interaksi yang teramati
Bunga bungur yang berwarna mencolok menarik serangga penyerbuk seperti
lebah, kupu-kupu, dan kumbang yang membantu proses penyerbukan. Daunnya juga
menjadi tempat hinggap atau makanan bagi beberapa jenis serangga herbivor. Selain
itu, pohon ini memberikan naungan dan tempat bertengger bagi burung serta hewan
kecil lainnya. Bungur lilin juga berinteraksi dengan lingkungan abiotik, misalnya
membantu mengurangi suhu melalui keteduhan dan menahan air hujan dengan
tajuknya
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Pohon bungur lilin bermanfaat sebagai peneduh karena tajuknya yang
rimbun dan mampu membantu menyerap polusi sehingga lingkungan menjadi lebih
sehat. Bunganya yang indah menambah nilai estetika, membuatnya sering
dijadikan tanaman hias. Kayunya dapat digunakan untuk bahan bangunan ringan,
sementara daunnya juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk
membantu menjaga kesehatan, terutama dalam menurunkan gula darah.
8. Pohon Mangga (Lagerstroemia speciosa)
a) Deskripsi Umum
Pohon mangga adalah tanaman buah tahunan yang termasuk dalam
keluarga Anacardiaceae. Pohon ini dapat tumbuh besar dengan daun hijau
mengilap dan menghasilkan buah berwarna hijau hingga kuning saat matang.
Mangga dikenal sebagai buah tropis yang memiliki daging manis dan beraroma
khas. Tanaman ini sangat umum ditanam di pekarangan rumah, kebun, hingga
area pertanian karena perawatannya mudah dan hasil buahnya melimpah.
Gambar 8. Pohon Mangga (Lagerstroemia speciosa)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Magnoliophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Sapindales
Familia
Anacardiaceae
Genus
Mangifera
Species
Mangifera indica
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini memiliki akar tunggang kuat dan batang berkayu tegak cokelat
keabu-abuan setinggi 1040 meter. Daunnya lonjong, licin, dan ujung meruncing,
daun muda merah kecokelatan. Bunganya kecil, malai, kekuningan atau
kemerahan, dan buahnya berbiji tunggal, bulat/lonjong, berkulit tebal, hijau saat
muda, kuning/oranye saat matang dengan daging manis.
d) Ciri Khas
Menghasilkan getah putih ketika kulit batang atau daun dilukai.
Daun muda berwarna merah atau jingga sebelum berubah menjadi hijau.
Buah memiliki aroma manis yang kuat saat matang.
Ukuran pohon yang besar dengan tajuk rimbun dan mampu memberikan
banyak naungan.
e) Perkembangbiakan
Pohon mangga dapat diperbanyak secara generatif melalui biji atau
secara vegetatif dengan okulasi, cangkok, dan sambung pucuk untuk varietas
unggul dan cepat berbuah. Pohon biasanya mulai berbuah pada usia 46
tahun, lebih cepat jika menggunakan perbanyakan vegetatif.
f) Habitat/Lokasi
Pohon ini tumbuh baik di daerah tropis dengan curah hujan sedang dan
banyak dijumpai di pekarangan rumah, kebun buah, lahan pertanian, serta
hutan sekunder atau tepi hutan. Pertumbuhannya optimal pada tanah gembur,
subur, dan memiliki drainase baik.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon yang diamati memiliki tinggi sekitar ± 7 meter dengan tajuk
rimbun. Daun terlihat hijau mengilap dan sebagian terdapat daun muda
berwarna merah. Terdapat buah berukuran sedang yang masih berwarna
hijau. Getah keluar ketika ranting patah. Beberapa serangga, seperti semut
dan lebah kecil, terlihat berada pada bunga dan batang pohon.
h) Interaksi yang teramati
Pohon ini dikunjungi lebah dan serangga kecil untuk mencari nektar
sebagai penyerbuk alami. Manusia memanen buahnya untuk dikonsumsi,
sementara burung dan tupai sesekali memakan buah matang. Pohon juga
memberikan naungan dan mengurangi panas lingkungan di sekitarnya.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Buahnya dikonsumsi sebagai makanan dan sumber vitamin A, C, dan
serat. Kayu dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan ringan. Daun dan kulit
batang digunakan dalam pengobatan tradisional. Pohon memberikan peneduh
di pekarangan. Menyediakan habitat dan sumber pakan bagi serangga,
burung, dan mamalia kecil. Menghasilkan oksigen dan membantu menyerap
karbon di udara. Akar membantu mencegah erosi tanah. Tajuk rimbun
menjaga kelembapan tanah dan menjadi mikrohabitat bagi
banyak organisme.
9. Pohon Manggis (Garcinia mangostana)
a) Deskripsi Umum
Pohon manggis adalah tanaman buah tropis yang dikenal sebagai “ratu
buah” karena rasanya yang manis-asam dan daging buah yang lembut. Tanaman
ini tumbuh relatif lambat tetapi dapat mencapai ukuran besar dengan tajuk
rimbun. Kulit buah berwarna ungu tua ketika matang, sedangkan dagingnya
berwarna putih dan bersekat. Manggis merupakan tanaman hijau abadi dan
sangat sensitif terhadap kekeringan.
Gambar 9. Pohon Manggis (Garcinia mangostana)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Magnoliophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Malpighiales
Familia
Clusiaceae (Guttiferae)
Genus
Garcinia
Species
Garcinia mangostana
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini memiliki akar tunggang kuat dengan banyak cabang.
Batangnya berkayu keras, tegak, cokelat kehitaman, agak kasar, tinggi 725
meter. Daunnya tunggal, lonjong, tebal, hijau tua, dan licin. Bunganya merah
kekuningan muncul di ujung ranting atau ketiak daun. Buah bulat berkulit tebal
ungu tua dengan daging putih manis asam, dasar buah menunjukkan “bunga
bintang” segmen daging
d) Ciri Khas
Kulit buah berwarna ungu pekat dan tebal.
Daging buah berwarna putih, terdiri atas 47 segmen, rasanya manis-
asam.
Daun tebal dan mengilap.
Tumbuh sangat lambat dan membutuhkan kondisi lembap stabil.
Sering disebut “ratu buah” karena kualitas rasa dan nilai ekonomi tinggi.
e) Perkembangbiakan
Pohon manggis berkembang biak secara generatif melalui biji
apomiktik, sehingga anakan mirip induknya, dan secara vegetatif melalui
cangkok atau okulasi meski lebih sulit. Pohon biasanya mulai berbuah pada
usia 710 tahun, tergantung kondisi lingkungan.
f) Habitat/Lokasi
Pohon ini tumbuh baik di wilayah tropis basah dengan curah hujan
tinggi. Tanah yang dibutuhkan harus subur, lembap, dan tidak tergenang agar
pertumbuhannya optimal. Tanaman ini banyak ditemukan di kebun buah,
pekarangan desa, serta lahan pertanian dataran rendah hingga sedang.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon yang diamati memiliki tinggi sekitar 6 meter dengan batang
berwarna cokelat kehitaman. Daunnya tebal, hijau tua, dan licin, sedangkan
buahnya tampak ungu tua dengan beberapa yang masih hijau. Pada ujung
ranting terlihat beberapa bunga. Kondisi lingkungan sekitar cukup lembap
dengan tanah yang gembur. Tidak banyak hewan terlihat pada batang, namun
semut kecil tampak mendekati buah yang retak.
h) Interaksi yang teramati
Pohon ini dikunjungi semut dan serangga kecil yang mencari nektar atau
getah. Pohon juga memberikan keteduhan dan menjaga kelembapan tanah.
Manusia memanen buahnya untuk dikonsumsi, sementara burung sesekali
hinggap, namun hewan besar jarang memakannya karena kulit buahnya keras.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Pohon ini memiliki banyak manfaat bagi manusia dan lingkungan.
Buahnya menjadi sumber vitamin dan antioksidan, sementara kulit buah
sering digunakan sebagai pewarna dan obat herbal. Pohonnya berfungsi
sebagai peneduh dan memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai tanaman buah
unggulan. Selain menyediakan habitat bagi serangga dan burung kecil, pohon
ini juga membantu menjaga mikroklimat, menghasilkan oksigen, mengikat
karbon, serta memperkuat struktur tanah melalui akar yang mampu mencegah
erosi
10. Pohon Kecapi (Sandoricum koetjape)
a) Deskripsi Umum
Pohon kecapi (Sandoricum koetjape) adalah tanaman buah tropis yang
termasuk dalam keluarga Meliaceae. Pohon ini dapat tumbuh besar dengan daun
majemuk dan tajuk yang rimbun. Buahnya berbentuk bulat sedikit pipih,
berwarna kuning keemasan saat matang, serta memiliki daging buah berasa
manis hingga masam segar. Kecapi banyak ditanam di pekarangan, kebun,
maupun tumbuh alami di hutan tropis karena pohonnya kokoh dan buahnya
memiliki nilai konsumsi serta ekonomi.
Gambar 10. Pohon Kecapi (Sandoricum koetjape)
b) Klasifikasi Taksonomi
Tingkatan Taksonomi
Nama
Regnum
Plantae
Phyllum
Magnoliophyta
Classic
Magnoliopsida
Ordo
Sapindales
Familia
Meliaceae
Genus
Sandoricum
Species
Sandoricum koetjape
c) Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati
Pohon ini memiliki akar tunggang yang kuat dengan sebaran akar lateral
yang rapat sehingga mampu menopang batangnya. Batangnya tegak dan
berkayu keras, berwarna cokelat keabu-abuan, serta dapat tumbuh hingga
mencapai tinggi sekitar 1020 meter. Daunnya merupakan daun majemuk yang
terdiri dari 39 anak daun berbentuk lonjong, bertekstur tebal, dan berwarna
hijau tua mengilap. Bunganya tersusun dalam malai kecil berwarna putih
kekuningan dengan aroma khas. Sementara itu, buahnya berbentuk bulat atau
sedikit pipih, memiliki kulit tebal berwarna kuning keemasan saat matang, dan
daging buahnya berwarna putih lembut dengan rasa manisasam.
d) Ciri Khas
Buah kecapi memiliki rasa khas manisasam yang menyegarkan.
Daunnya besar dan tebal sehingga memberikan naungan yang sangat
baik.
Kulit buah tebal dan sering dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional.
Pohon memiliki tajuk lebat sehingga sering ditanam sebagai peneduh
e) Perkembangbiakan
Pohon ini berkembang biak secara generatif melalui biji yang diambil
dari buah kecapi yang telah masak. Perbanyakan vegetatif juga dapat
dilakukan melalui cangkok, okulasi, atau stek, meskipun metode ini lebih
jarang digunakan dibandingkan biji. Umumnya, pohon mulai menghasilkan
buah pada usia 47 tahun, bergantung pada kondisi tumbuh dan
perawatannya.
f) Habitat/Lokasi
Pohon ini tumbuh baik di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup.
Tanamannya banyak dijumpai di pekarangan rumah, kebun buah, lahan
pertanian, serta pinggir hutan atau hutan sekunder. Pertumbuhan optimal
terjadi pada tanah yang subur, tidak tergenang air, dan memiliki drainase yang
baik.
g) Catatan Hasil Pengamatan
Pohon kecapi yang diamati memiliki tinggi sekitar ± 68 meter
dengan daun majemuk berwarna hijau tua. Tajuk tampak rimbun. Buah yang
terlihat masih berwarna hijau dengan beberapa sudah mulai menguning.
Ketika batang kecil dilukai, tampak getah keluar. Beberapa serangga seperti
semut dan lebah kecil terlihat mendekati bunga dan buahnya
h) Interaksi yang teramati
Pohon ini berinteraksi dengan berbagai makhluk hidup di sekitarnya.
Serangga seperti lebah, lalat buah, dan kumbang kecil datang ke bunga untuk
mengambil nektar. Manusia memanfaatkan buahnya sebagai makanan atau
bahan olahan. Burung dan kelelawar buah tertarik pada buah matang dan
membantu penyebaran biji. Selain itu, pohon ini juga memberikan naungan
dan membantu menstabilkan suhu lingkungan.
i) Manfaat dan Peranan Ekologis
Pohon ini memiliki banyak manfaat bagi manusia dan lingkungan.
Buahnya menjadi sumber vitamin dan antioksidan, sementara kulit buah
sering digunakan sebagai pewarna dan obat herbal. Pohonnya berfungsi
sebagai peneduh dan memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai tanaman buah
unggulan. Selain menyediakan habitat bagi serangga dan burung kecil, pohon
ini juga membantu menjaga mikroklimat, menghasilkan oksigen, mengikat
karbon, serta memperkuat struktur tanah melalui akar yang mampu mencegah
erosi